Inilah salah satu percik peristiwa yang membuat jam terbang seorang pendidik mekar. Atau kita sering berujar; asam garam orang hidup di dunia. Barangkali pengalaman seperti ini tidak banyak dialami oleh guru di daerah “normal” seperti sekolah lazimnya di Jogja. Ini Aceh saudara, sebuah wilayah NKRI yang pernah diterjang gelombang besar Tsunami dan diporak-porandakan oleh konflik bersenjata.
***
Aku mengajar siang, matematika lagi. Sebuah mata pelajaran yang bukan merupakan Fak-ku. Tapi karena tugas, maka tak ada pilihan lain. Bismillah. Detak Jam menunjukkan pukul 11.10WIB. Sesuai agenda, hari ini ada kuis matematika, semacam tes kecil untuk mengetahui tingkat pemahaman anak-anak tentang pelajaran ini. Semua khusyuk mengerjakan lembar soal yang kubagikan. Namun ada satu anak yang beda. Moh. Amin, atau panggil saja Amin.
Wajah anak ini “Aceh sekali” begitu pun logatnya. Sangat kental. Ia sering bicara bahasa Aceh daripada Indonesia. Baru beberapa pekan aku mengajar di sekolah ini, sehingga belum semua karakter anak kuhafal. Hanya lewat SISTO saja aku membaca riwayat mereka. Dan kurasa itu sangat belum cukup. Dan yang kukenal dari seorang Amin ia adalah sosok pemberontak. Ia belajar sesuai dengan kemauannya sendiri, asal pelajaran itu bisa buat ia bergerak dan berekspresi,ia akan senang. Tapi jangan ditanya jika sebaliknya. Begitu pun kejadian kali ini.
Suasana tenang ujian terusik ketika kulihat Amin tidak mengerjakan soal matematika yang kuberi. Ia malah memanggul tas ranselnya seolah ia mau pulang. Bahkan soal yang kubagikan satu soal untuk dua siswa dengan nomor ganjil-genap malah dicoret-coretnya. Agak emosi pula aku, kertas di sini tidak mudah di dapat. Fotokopi saja harus mencatat di lembar penggunaan aset; Fotokopi apa, untuk apa, berapa lembar, lalu tanda tangan. Eeee ini anak malah menyia-nyiakan kertas. Soal dicoret-coret lagi. Apa maunya anak ini.
Kudekati ia, agak keras kutegur Amin,
“ Hei Amin, ada apa denganmu? Kenapa soalnya tidak dikerjakan?”
Ia menjawab sekenanya, “ Susah lah Pak. Tak bisa saya.”
“ Tidak bisa boleh saja, tapi tidak harus mencoret-coret soal begini. Kamu tidak menghargai saya Ya?”
Amin terdiam. Tetapi matanya tajam menatapku. Tak ada rasa gentar sedikitpun dengan teguranku. “ Lalu kenapa kamu bawa tas, mau keluar hah?”
“ Iya Pak, di sini tak ada kerjaan.” Jawabnya ringan.
“ Apa?! Tak ada kerjaan katamu?! Baik, kalau begitu di luar banyak sepatu yang belum rapi. Sekarang keluar sana dan rapikan!!”
Amin diam, kali ini dia tidak menatap mataku seperti tadi. Ia hanya menggeleng acuh. “ ……”
Semakin merah telingaku, kurebut soal dari hadapannya dan kuberikan pada Ahlul Zikri dan Fata Imanda yang duduk di meja belakangnya. Amin tetap diam tanpa protes. Dan benar saja, hingga akhir kuis ia hanya duduk, diam dan mencoret kertas tanpa peduli yang sedang berlangsung di kelas. Aku hanya geleng-geleng kepala, orang Jawa bilang “ Judheg rasane”
Jam sekolah usai, namun rasa penasaranku belum. Bakda Sholat Zuhur dan makan siang, aku duduk di tepi koridor dekat asrama. Semakin ingin aku untuk mengenal anak didikku lebih dekat. Kuputuskan untuk bicara lebih dekat. Kali ini dengan VII A girls, yang memang sedang berkumpul di dekatku duduk.Mereka adalah Ayu, Safrina, Una, Elfi and friends yang seperti diundang untuk turut nimbrung. Hm, mungkin selama ini aku terlalu ‘guru’ buat mereka, sehingga ketika melihatku sedikit berakrab maka hilanglah keraguan untuk berinteraksi lebih dekat.
Dan seolah ada sutradara yang mengarahkan perbincangan kami pada Moh.Amin, anak Meulaboh yang tadi kubentak. Dari perbincangan itu barulah aku tahu siapa Amin dari Una dan Ayu:
“Kasihan anak itu Pak,dia dulu korban konflik. Dia sebatang kara, ayah dan mamaknya meninggal saat bentrok TNI dan GAM. Sekarang dia agak-agak stress gitu.”
Bergetar dadaku, kucoba bertanya lagi.
“Dia dulu jadi anak jalanan Pak. Setelah orangtuanya tidak ada, dia dipelihara orang bersama adiknya. Tapi dia sering disiksa. Lihat saja pak, di badannya ada bekas luka-luka. Disiram air panas, dipukul dan dirotan. Itulah Pak, jadi dia tidak betah. Kaburlah ia.” Cerita Mariana dengan logat khas Aceh.
“Tapi Pak... Amin setelah kabur teringat adiknya, lalu balik lagi ke rumah orang yang memungut dia tadi. Di sana adiknya sudah tidak ada. Nggak tau, sudah dijual mungkin. Amin stres Pak, sampai akhirnya di ditemukan oleh guru sini di terminal bis. Tapi selama sekolah disini, setiap dia ingat adik atau orang tuanya yang sudah tidak ada, dia sering marah-marah sendiri. Ditendangnya kotak sampah dan mengumpat-umpat, atau kadang soal ulangan di yang jelek nilainya dibuang di muka ibuk guru. Lagi-lagi ia kenak marah. Sama buk Fitri juga begitu dulu.”
Astaghfirullah.Ya Alloh, ampuni aku. Termenung aku sebentar. Pantas dari dulu pertama aku masuk kelas matematika, Amin tak pernah membawa buku. Ia senang lebih senang mencorat coret kertas dan cuek dengan tulisan di papan tulis. Aku ingat protesnya waktu ketika pelajaran matematika tidak kubuka denga ice breaking. “Main lah Pak, jangan kelas B saja yang diberi!” Dari testimoni kawan-kawan sekelasnya itu, baru kusadari bahwa aku telah berbuat zalim pada Amin yang malang. Aku makin merasa bersalah karena sudah membentaknya tanpa belajar tentang apa yang melatarbelakanginya berbuat hal itu.
Sadar dari lamunan, kusadari mereka menanti aku bicara lagi. Kualihkan pembicaraan pada topik yang lain.
“Siapa lagi yang ada dari Meulaboh?”
“Ada pak, Qisthi.” Lalu mereka saling menggoda jika ada nama anak laki-laki disebut namanya, dijodoh-jodohkan begitu. Masa puber.
“Kalau Ayu dari Langsa Pak.”
Kualihkan pandangku pada gadis berkerudung hitam manis yang duduk di depanku itu. Di kelas ia sangat periang. Dialah yang sering main pukul-pukulan dengan anak lak-laki.
“Ayu dulu hidup di gunung Pak.”
“Eee maksudnya, nggak kena Tsunami?” Tanyaku memperjelas.
“Bukan Pak, ayah dulu nggak diterima tinggal di desa, jadi harus naik ke gunung”
“Oo, jj..jadi ayah Ayu GAM ya?” Aku bertanya dengan hati-hati
“Iya pak.” Jawabnya_ yang aku heran, ia menjawab sambil tersenyum. “Sekarang di mana?”
“Ayah sudah meninggal waktu perang, kena tembak tentara. Nggak ada lagi, Pak.”
“Innalillahi...” Heranku sekali lagi, masih bisa anak ini mendermakan senyumnya padaku.
Pembicaraan itu berlanjut dengan renyah, meskipun dibaliknya aku menahan sedih. Anak-anak muridku yang malang. Waktu demi waktu telinga serta hatiku terus diajari oleh murid-muridku ini tentang nilai kesabaran, keteguhan dan ketabahan. Satu demi satu mereka bercerita tentang rumahnya yang hancur diterjang gelombang, keluarga mereka yang tewas, harta yang habis dan....soal matematikaku yang terlalu sulit.
Pantas, selama ini nilai Matematika di dua kelas yang kuajar berkisar antara re mi fa sol la. Kupikir waktu itu aku hebat karena berhasil menunjukkan “standar Kota Pelajar Yogyakarta” pada mereka.
Aku layak menyesal, karena membuat soal tidak dari sudut pandang mereka. Ego terlalu melangit, ingin bekerja instan tanpa riset mendalam. Benar kata orang bijak, bahwa apabila nilai sebagian besar siswa jelek, jangan salahkan siswanya, tetapi salahkan gurunya karena tidak bisa memahami sejauh mana kemampuan siswanya. Alias gurunya yang nggak pinter! Baru sekarang terasa sekali makna kalimat itu bagiku.
Tak kusangka Amin melintas di depan kami. Ia tampak murung. Mungkin hari ini ia sedang teringat lagi dengan adiknya, ayahnya, mamaknya atau kehidupan jalanannya dulu. Kusapa dia, “Where are you going Amin?” Ia menoleh sedikit, tersungging di bibirnya sebuah senyum getir. Tidak ia jawab petanyaan basa basi itu. Ia hanya berlalu melewati diam kami. Entah apa yang bergemuruh di hatinya. Entah.
Showing posts with label sekolah. Show all posts
Showing posts with label sekolah. Show all posts
Tuesday, March 30, 2010
Obrolan Menjelang Tidur: Part Two
Rembulan masih saja setia menemani diskusi kami malam ini. Sama, di teras depan rumah dinas Kepala Sekolah SMP. Tentu saja dengan orkestra Gareng Pung dan sedikit gelak tawa samar anak-anak dari asrama putra.
Entah bagaimana awalnya kami sudah masuk pada diskusi tentang pernikahan. Sebagai pelaku pernikahan dini, tentu saja dengan semangat kuceritakan semua liku perjalanan menikah saat kuliah. Bagaimana meyakinkan orang tua dan mertua agar mengizinkan kami menikah, menghadapi stigma masyarakat bahwa mahasiswa yang menikah saat kuliah biasanya karena “kecelakaan” dulu, bagaimana menghadapai tantangan ekonomi agar kami berdua bisa tetap bayar kuliah sambil bisa makan 3 kali sehari, hingga akhirnya bukti-bukti bahwa menikah dini yang didasari semangat untuk menjaga agama dan diri justru akan memantik prestasi-prestasi!
Bang Muchlish mendengarkan dengan seksama, entah apa yang ada di pikirannya. Ia hanya berkata, “ Iya, saya juga harus bantu biaya kuliah adik. Saya tahu rasanya.” Putra nanggroe Aceh ini bergumam, “ Enak ya di jawa tidak harus pake emas kawin.” Mendengar itu aku sedikit protes, “Ya,pake dong Bang, maskawin itu kan salah satu rukun menikah!”
Bang Muchlish senyum, “Bukan maskawin tetapi Emas kawin.”
Mendengar hal itu aku mengernyitkan dahi. “ Maksudnya?”
“Pernah mendengar kata Mayam?” Aku geleng-geleng.
“ Mayam adalah satuan lokal Aceh untuk mahar. Ia senilai dengan 3 gram emas….mmmm berapa tuh, ya kira-kira sembilan ratus ribu rupiah lah. Jadi mayam itu pula satuan syarat yang harus diserahkan kepada mertua anak gadis yang kita pinang. Besarnya terkadang memberatkan pihak laki-laki.”
“ Bukannya sebaik-baiknya wanita adalah yang paling mudah maharnya?”
“ Itu benar, tetapi di sini budaya mengalahan agama. Kalo boleh cerita, itu terjadi pula pada dua kakakku (kakak di Aceh artinya mbak jika di Jogja_pen), kakak yang pertama menikah dengan mahar 15 mayam. Hhh, nggak tau, mungkin setelah nikah, uang mereka habis semua buat bayar mayam. Dan mayam itu pun buat orang tuanya, belum tentu sampai ke anaknya lagi. ”
Aku sedikit menyela, “Ada Bang, teman saya orang Medan, dia sekolah magister di Jogja. Waktu menikah memang hampir sama, yaitu pihak keluarga laki-laki harus menyerahkan sejumlah uang dan perabot rumah tangga. Tetapi setelah selesai, semua uang dan perabot itu diserahkan kepada mempelai wanita…..ya kembali lagi untuk rumah tangga mereka kelak.”
Bang Muchlis meneruskan lagi setelah manggut sedikit, “ Sedangkan kakak yang ke dua juga sama. Bahkan mamak saya meminta mayam yang lebih besar, 20 mayam. Ya, sekitar 17 juta. Calon suaminya keberatan, begitu pun saya. Begitulah, adat juga bicara bahwa jika ada anak menikah dengan mayam tertentu, maka anak berikutnya harus lebih mahal dari yang pertama.”
“ Wah kok begitu ya?” Heranku.
“ Makanya, untuk kakak pertama saya mungkin kurang vokal tapi untuk kakak yang kedua saya berani protes dengan orang tua. Mana ada budaya mengalahkan Agama! Eee, malah saya dibilang bahwa disekolahkan tinggi malah menentang adat. Saya tidak menyerah, dan alhamdulillah kakak yang kedua ini kritis juga_dia jadi PNS dan sekarang kerja di Jakarta bersama suaminya, lalu memutuskan sendiri jumlah mayamnya berapa. Akhirnya mayam kakak kedua bisa lebih ringan dari yang disyaratkan. Memang tidak langsung boleh, tetapi terus saya bela. Yang mau nikah saja mau kok, kenapa orang tua yang mengatur. Memangnya yang mau nikah siapa? Bukan orang tuanya khaan?” Bang Muchlish tampak berapi-api.
Aku manggut-manggut, lalu bertanya lagi,” Sebenarnya apa sih Bang patokan murah mahalnya Mayam tu?”
“ Itu juga yang saya kurang paham, tetapi biasanya dari tingkat pendidikan si wanita atau kedudukan sosialnya di masyarakat. Kalau wanitanya sarjana, itu bisa 15 sampai 20 mayam. Makanya ada teman yag menikahi gadis ketika masih sekolah SMA. Memang tidak langsung berumah tangga, tetapi paling tidak mayam nya lebih murah. Benar lho, Itu terjadi.”
“Begitu ya, padahal di Jawa itu malah sebaliknya. Kalo di Jogja saja contohnya. Jika menikah, justru pihak wanita yang menyiapkan semuanya. Dari tamu undangan, pesta perkawinan, upacara ijab kabul dan sebagainya. Pihak laki-laki hanya datang, ijab dan pulang. Paling-paling bantu uang berapa gitu. Enak khan? Gimana enggak, setiap mahasiswa sekolah di sana, lulus, kemudian menikah dengan gadis Jawa, ia seperti orang penting. Ketika lamaran disetujui, ia tinggal “ menunggu panggilan” ijab kabul saja. Bahkan untuk urusan rumah bisa tinggal bersama mertua. Sudah biasa di sana.”
“ Kalau begitu nikah dengan orang Jawa saja apa ya?”
Bang Muchlis ikut tergelak lalu meneruskan kisah yang semakin hangat saja ini, “Saya ada cerita asli dari teman saya. Ini hanya bagian kecil dari pemuda-pemuda Aceh yang mengeluhkan tentang mahalnya mahar untuk wanita Aceh. Padahal Islam, seperti kata abang tadi mengatur untuk mempermudah anak-anak muda supaya menikah, maka mahar yang terbaik adalah yang paling mudah. Kalau di sini budaya mengalahkan syariat. Nah, teman saya itu hanya punya uang dua juta. Dia ingin menikahi gadis yang dia cintai, tetapi sayangnya si ibu gadis itu ingin mahar 10 mayam. Tentu saja sangat berat bagi teman saya tadi. Ia menawar terus, tetapi si ibu juga tetap bersikeras.”
“Karena putus asa, ia curhat sama saya begini, Aku punya uang dua juta, kalo tidak ingat iman mending kupakai uang itu untuk ke Medan saja selesai urusan! Bayar bis 200 ribu, penginapan paling 300 ribu, di sana aku bisa gonta-ganti perempuan untuk lampiaskan hasratku. Biarin, orang tua cewek itu juga ikut tanggung dosanya! Habis mau gimana lagi, mau nikah saja susah, anak kok seperti barang dagangan untuk dibeli!
“ Masya Alloh” Dalam hati aku turut sedih. Sedikit banyak aku pernah merasakan rasanya ketika ingin menikah dan tidak pula izin kunjung datang. Sungguh ironi, di serambi Mekah yang ditahbiskan menjunjung Syariat Islam ini hal tersebut masih saja terjadi. Menurutku adat ini jika terus dipertahankan akan merusak pelan-pelan dari dalam. Jika para pemuda sulit menikah, maka mereka bisa terjerumus maksiat yang lebih besar. Sedangkan para wanita jika sekolah tinggi-tinggi dan mayam nya semakin mahal, dikhawatirkan sedikit peluangnya untuk dipinang oleh laki-laki. Bisa dibayangkan jika pemuda-pemudi muslim dalam usia yang sudah wajib menikah tetapi terhalang oleh adat yang mempersulit tadi. Resiko zina menjadi lebih tinggi. Wahai para orang tua yang budiman, tolong dengarkan suara hati putra-putrimu ini.
***
Malam semakin larut. Kantuk datang dengan gaya khasnya. Kami sudahi obrolan itu tanpa solusi pasti untuk permasalahan yang kami bincangkan. Bang Muchlis masuk ke kamarnya, begitu pun aku. Di kamar, aku melihat istriku dan Habib sudah tidur. Entah kenapa, sebuah perasaan menyelinap di relung dadaku. Aku merasa sangat bersyukur telah berhasil mendapatkan istriku. Aku dianugerahi Alloh pendamping hidup dengan sedikit perjuangan saja, jika dibandingkan dengan saudara-saudaraku pemuda Aceh di sini. “ Alhamdulillah Ya Alloh, Engkau telah berikan nikmat yang besar padaku. Di saat gairah kepemudaanku sedang mencapai buncahan titik rawannya, Engkau redakan dengan datangnya belahan jiwa di sisiku. Alhamdulillah”.
Kubelai rambut istriku, kuberi kecupan di keningnya. Ia terbangun oleh rasa hangat di kening. Tersenyum. Dan....... malam itu begitu hangat untuk kami berdua.
Obrolan Menjelang Tidur: Part Two
Rembulan masih saja setia menemani diskusi kami malam ini. Sama, di teras depan rumah dinas Kepala Sekolah SMP. Tentu saja dengan orkestra Gareng Pung dan sedikit gelak tawa samar anak-anak dari asrama putra.
Entah bagaimana awalnya kami sudah masuk pada diskusi tentang pernikahan. Sebagai pelaku pernikahan dini, tentu saja dengan semangat kuceritakan semua liku perjalanan menikah saat kuliah. Bagaimana meyakinkan orang tua dan mertua agar mengizinkan kami menikah, menghadapi stigma masyarakat bahwa mahasiswa yang menikah saat kuliah biasanya karena “kecelakaan” dulu, bagaimana menghadapai tantangan ekonomi agar kami berdua bisa tetap bayar kuliah sambil bisa makan 3 kali sehari, hingga akhirnya bukti-bukti bahwa menikah dini yang didasari semangat untuk menjaga agama dan diri justru akan memantik prestasi-prestasi!
Bang Muchlish mendengarkan dengan seksama, entah apa yang ada di pikirannya. Ia hanya berkata, “ Iya, saya juga harus bantu biaya kuliah adik. Saya tahu rasanya.” Putra nanggroe Aceh ini bergumam, “ Enak ya di jawa tidak harus pake emas kawin.” Mendengar itu aku sedikit protes, “Ya,pake dong Bang, maskawin itu kan salah satu rukun menikah!”
Bang Muchlish senyum, “Bukan maskawin tetapi Emas kawin.”
Mendengar hal itu aku mengernyitkan dahi. “ Maksudnya?”
“Pernah mendengar kata Mayam?” Aku geleng-geleng.
“ Mayam adalah satuan lokal Aceh untuk mahar. Ia senilai dengan 3 gram emas….mmmm berapa tuh, ya kira-kira sembilan ratus ribu rupiah lah. Jadi mayam itu pula satuan syarat yang harus diserahkan kepada mertua anak gadis yang kita pinang. Besarnya terkadang memberatkan pihak laki-laki.”
“ Bukannya sebaik-baiknya wanita adalah yang paling mudah maharnya?”
“ Itu benar, tetapi di sini budaya mengalahan agama. Kalo boleh cerita, itu terjadi pula pada dua kakakku (kakak di Aceh artinya mbak jika di Jogja_pen), kakak yang pertama menikah dengan mahar 15 mayam. Hhh, nggak tau, mungkin setelah nikah, uang mereka habis semua buat bayar mayam. Dan mayam itu pun buat orang tuanya, belum tentu sampai ke anaknya lagi. ”
Aku sedikit menyela, “Ada Bang, teman saya orang Medan, dia sekolah magister di Jogja. Waktu menikah memang hampir sama, yaitu pihak keluarga laki-laki harus menyerahkan sejumlah uang dan perabot rumah tangga. Tetapi setelah selesai, semua uang dan perabot itu diserahkan kepada mempelai wanita…..ya kembali lagi untuk rumah tangga mereka kelak.”
Bang Muchlis meneruskan lagi setelah manggut sedikit, “ Sedangkan kakak yang ke dua juga sama. Bahkan mamak saya meminta mayam yang lebih besar, 20 mayam. Ya, sekitar 17 juta. Calon suaminya keberatan, begitu pun saya. Begitulah, adat juga bicara bahwa jika ada anak menikah dengan mayam tertentu, maka anak berikutnya harus lebih mahal dari yang pertama.”
“ Wah kok begitu ya?” Heranku.
“ Makanya, untuk kakak pertama saya mungkin kurang vokal tapi untuk kakak yang kedua saya berani protes dengan orang tua. Mana ada budaya mengalahkan Agama! Eee, malah saya dibilang bahwa disekolahkan tinggi malah menentang adat. Saya tidak menyerah, dan alhamdulillah kakak yang kedua ini kritis juga_dia jadi PNS dan sekarang kerja di Jakarta bersama suaminya, lalu memutuskan sendiri jumlah mayamnya berapa. Akhirnya mayam kakak kedua bisa lebih ringan dari yang disyaratkan. Memang tidak langsung boleh, tetapi terus saya bela. Yang mau nikah saja mau kok, kenapa orang tua yang mengatur. Memangnya yang mau nikah siapa? Bukan orang tuanya khaan?” Bang Muchlish tampak berapi-api.
Aku manggut-manggut, lalu bertanya lagi,” Sebenarnya apa sih Bang patokan murah mahalnya Mayam tu?”
“ Itu juga yang saya kurang paham, tetapi biasanya dari tingkat pendidikan si wanita atau kedudukan sosialnya di masyarakat. Kalau wanitanya sarjana, itu bisa 15 sampai 20 mayam. Makanya ada teman yag menikahi gadis ketika masih sekolah SMA. Memang tidak langsung berumah tangga, tetapi paling tidak mayam nya lebih murah. Benar lho, Itu terjadi.”
“Begitu ya, padahal di Jawa itu malah sebaliknya. Kalo di Jogja saja contohnya. Jika menikah, justru pihak wanita yang menyiapkan semuanya. Dari tamu undangan, pesta perkawinan, upacara ijab kabul dan sebagainya. Pihak laki-laki hanya datang, ijab dan pulang. Paling-paling bantu uang berapa gitu. Enak khan? Gimana enggak, setiap mahasiswa sekolah di sana, lulus, kemudian menikah dengan gadis Jawa, ia seperti orang penting. Ketika lamaran disetujui, ia tinggal “ menunggu panggilan” ijab kabul saja. Bahkan untuk urusan rumah bisa tinggal bersama mertua. Sudah biasa di sana.”
“ Kalau begitu nikah dengan orang Jawa saja apa ya?”
Bang Muchlis ikut tergelak lalu meneruskan kisah yang semakin hangat saja ini, “Saya ada cerita asli dari teman saya. Ini hanya bagian kecil dari pemuda-pemuda Aceh yang mengeluhkan tentang mahalnya mahar untuk wanita Aceh. Padahal Islam, seperti kata abang tadi mengatur untuk mempermudah anak-anak muda supaya menikah, maka mahar yang terbaik adalah yang paling mudah. Kalau di sini budaya mengalahkan syariat. Nah, teman saya itu hanya punya uang dua juta. Dia ingin menikahi gadis yang dia cintai, tetapi sayangnya si ibu gadis itu ingin mahar 10 mayam. Tentu saja sangat berat bagi teman saya tadi. Ia menawar terus, tetapi si ibu juga tetap bersikeras.”
“Karena putus asa, ia curhat sama saya begini, Aku punya uang dua juta, kalo tidak ingat iman mending kupakai uang itu untuk ke Medan saja selesai urusan! Bayar bis 200 ribu, penginapan paling 300 ribu, di sana aku bisa gonta-ganti perempuan untuk lampiaskan hasratku. Biarin, orang tua cewek itu juga ikut tanggung dosanya! Habis mau gimana lagi, mau nikah saja susah, anak kok seperti barang dagangan untuk dibeli!
“ Masya Alloh” Dalam hati aku turut sedih. Sedikit banyak aku pernah merasakan rasanya ketika ingin menikah dan tidak pula izin kunjung datang. Sungguh ironi, di serambi Mekah yang ditahbiskan menjunjung Syariat Islam ini hal tersebut masih saja terjadi. Menurutku adat ini jika terus dipertahankan akan merusak pelan-pelan dari dalam. Jika para pemuda sulit menikah, maka mereka bisa terjerumus maksiat yang lebih besar. Sedangkan para wanita jika sekolah tinggi-tinggi dan mayam nya semakin mahal, dikhawatirkan sedikit peluangnya untuk dipinang oleh laki-laki. Bisa dibayangkan jika pemuda-pemudi muslim dalam usia yang sudah wajib menikah tetapi terhalang oleh adat yang mempersulit tadi. Resiko zina menjadi lebih tinggi. Wahai para orang tua yang budiman, tolong dengarkan suara hati putra-putrimu ini.
***
Malam semakin larut. Kantuk datang dengan gaya khasnya. Kami sudahi obrolan itu tanpa solusi pasti untuk permasalahan yang kami bincangkan. Bang Muchlis masuk ke kamarnya, begitu pun aku. Di kamar, aku melihat istriku dan Habib sudah tidur. Entah kenapa, sebuah perasaan menyelinap di relung dadaku. Aku merasa sangat bersyukur telah berhasil mendapatkan istriku. Aku dianugerahi Alloh pendamping hidup dengan sedikit perjuangan saja, jika dibandingkan dengan saudara-saudaraku pemuda Aceh di sini. “ Alhamdulillah Ya Alloh, Engkau telah berikan nikmat yang besar padaku. Di saat gairah kepemudaanku sedang mencapai buncahan titik rawannya, Engkau redakan dengan datangnya belahan jiwa di sisiku. Alhamdulillah”.
Kubelai rambut istriku, kuberi kecupan di keningnya. Ia terbangun oleh rasa hangat di kening. Tersenyum. Dan....... malam itu begitu hangat untuk kami berdua.
Labels:
aceh,
bireuen,
catatan budaya,
sekolah,
Sukma Bangsa
Obrolan Menjelang Tidur: part one
Obrolan Menjelang Tidur: part one
Melalui seuntai obrolan, Tuhan hendak ajarkan aku tentang keuntungan dari menebarkan diri di permukaan bumi-Nya.Tanah Aceh.
Hari Senin malam. Malam pertama bang Muchlis, kepala sekolah SMP SB Biruen yang wismanya kutumpangi bermalam selama 2 bulan ke depan, akhirnya kembali menginap di rumah dinasnya ini. Setelah hampir satu minggu ia tidur di rumah orangtuanya dikarenakan sakit. Tensi darahnya drop, sehingga mata berkunang-kunang. Terlalu lelah berjuang demi lembaga yang dikepalainya,
Bang Muchlis, begitu aku memanggilnya. Meskipun kepala sekolah, ia masih lajang. Usianya saja hanya terpaut satu tahun kurang 6 hari dariku. Ia putra asli Bireuen, yang sukses menjadi pemimpin di kotanya sendiri. Lelaki perawakan sedang dan berkulit gelap manis inilah yang menyediAkan sebuah kamar dalam wisma dinasnya untuk kami. Lengkap dengan TV Parabola, kamar mandi ganda, dan kipas angin atap (ceiling fan), semua takkan pernah kulupa.
Malam itu rembulan malu-malu membuka kelopak matanyanya pada bumi. Bang Muchlis duduk di serambi depan rumah. Aku menemaninya. Awalnya kita ngobrol masalah pelajaran dan sekolah. Entah bagaimana ujungnya, kemudian ia bercerita tentang kondisi Bireuen dulu ketika malam seperti ini. “Waktu itu kalau sudah maghrib, orang lebih memilih di rumah. Karena kontak senjata antara TNI dan GAM bisa terjadi tanpa sudi untuk sedikit berbagi tanda. Kalau sudah terjebak di tengahnya, lebih baik tiarap saja. Itu kalau tidak ingin peluru mampir di batok kepala. Di rumah saja, tidur tidak berani di atas dipan, karena jendela rawan tembus peluru. Tidur di lantai cukup aman, karena sekelilingnya tembok.”
Bireuen termasuk basis GAM yang kental. Biasanya mereka yang bergabung adalah anak-anak muda. Cara perekrutannya,imbuhnya lagi, melalui khotbah Jumat dan orasi gerilya di desa-desa. Pemuda di desa yang jarang terjamah info dunia luar, mudah terprovokasi dan berbaiat menjadi anggota GAM.
“Nah, saya waktu itu masih SMA. Sering juga dikerjai oleh TNI.” Dengan pelafalan huruf “T” seperti orang Bali menyebut huruf yang sama (ia menyebutkan hanya TNI tanpa memakai kata oknum: karena itu sudah kebiasaanya).
Kadang jika TNI merazia kampungnya,dan ditemukan ada penduduk yang tidak bisa menunjukkan KTP, berarti kampung itu dianggap melindungi GAM. Seluruh pemuda kampung itu yang menerima getahnya. Mereka dikumpulkan di Meunasah (seperti surau), kemudian dijadikan sasaran kekesalan para anggota TNI. Ada yang menikmati ciuman popor senjata, merasakan lembutnya lars tentara di sekujur tubuhnya, tamparan, kerja membersihkan selokan, cacian dan deraan hukuman yang membuat jatuh harga diri. Semua kegiatan, kalau tidak boleh disebut ‘hinaan’ yang diperintahkan seolah wajib kifayah bagi para pemuda malang tadi.
"Saya udah kena beberapa kali. Tamparan pernah, push up sambil diinjak pantatnya-karena nggak bisa push up yang bagus…..pernah. Mmm… suruh hitung pagar juga pernah. Selesai dikerjain tentara, ya kami ketawa-ketawa lagi. Saling mengejek penderitaan masing-masing"
Bang Muchlish dengan roman muka datar bercerita pula tentang kebiasaan orang tua di Bireuen atau daerah lain. Yaitu orang tua yang memiliki anak laki-laki. Biasanya jika sudah menginjak remaja, lebih baik segera mengirimkan anak-anaknya ke Banda Aceh, Medan, Jakarta atau kota besar lainnya. Karena jika tidak, pilihannya hanya ada dua. Jadi anggota GAM atau dikira anggota GAM. Itulah kenapa ia dulu disekolahkan orang tuanya ke IAIN Sultan Ar-Raniri di Banda Aceh.
Bang Muchlish, dari sorot matanya yang teduh dan senyumnya yang tenang, terpancar kekuatan idealisme.
Melalui seuntai obrolan, Tuhan hendak ajarkan aku tentang keuntungan dari menebarkan diri di permukaan bumi-Nya.Tanah Aceh.
Hari Senin malam. Malam pertama bang Muchlis, kepala sekolah SMP SB Biruen yang wismanya kutumpangi bermalam selama 2 bulan ke depan, akhirnya kembali menginap di rumah dinasnya ini. Setelah hampir satu minggu ia tidur di rumah orangtuanya dikarenakan sakit. Tensi darahnya drop, sehingga mata berkunang-kunang. Terlalu lelah berjuang demi lembaga yang dikepalainya,
Bang Muchlis, begitu aku memanggilnya. Meskipun kepala sekolah, ia masih lajang. Usianya saja hanya terpaut satu tahun kurang 6 hari dariku. Ia putra asli Bireuen, yang sukses menjadi pemimpin di kotanya sendiri. Lelaki perawakan sedang dan berkulit gelap manis inilah yang menyediAkan sebuah kamar dalam wisma dinasnya untuk kami. Lengkap dengan TV Parabola, kamar mandi ganda, dan kipas angin atap (ceiling fan), semua takkan pernah kulupa.
Malam itu rembulan malu-malu membuka kelopak matanyanya pada bumi. Bang Muchlis duduk di serambi depan rumah. Aku menemaninya. Awalnya kita ngobrol masalah pelajaran dan sekolah. Entah bagaimana ujungnya, kemudian ia bercerita tentang kondisi Bireuen dulu ketika malam seperti ini. “Waktu itu kalau sudah maghrib, orang lebih memilih di rumah. Karena kontak senjata antara TNI dan GAM bisa terjadi tanpa sudi untuk sedikit berbagi tanda. Kalau sudah terjebak di tengahnya, lebih baik tiarap saja. Itu kalau tidak ingin peluru mampir di batok kepala. Di rumah saja, tidur tidak berani di atas dipan, karena jendela rawan tembus peluru. Tidur di lantai cukup aman, karena sekelilingnya tembok.”
Bireuen termasuk basis GAM yang kental. Biasanya mereka yang bergabung adalah anak-anak muda. Cara perekrutannya,imbuhnya lagi, melalui khotbah Jumat dan orasi gerilya di desa-desa. Pemuda di desa yang jarang terjamah info dunia luar, mudah terprovokasi dan berbaiat menjadi anggota GAM.
“Nah, saya waktu itu masih SMA. Sering juga dikerjai oleh TNI.” Dengan pelafalan huruf “T” seperti orang Bali menyebut huruf yang sama (ia menyebutkan hanya TNI tanpa memakai kata oknum: karena itu sudah kebiasaanya).
Kadang jika TNI merazia kampungnya,dan ditemukan ada penduduk yang tidak bisa menunjukkan KTP, berarti kampung itu dianggap melindungi GAM. Seluruh pemuda kampung itu yang menerima getahnya. Mereka dikumpulkan di Meunasah (seperti surau), kemudian dijadikan sasaran kekesalan para anggota TNI. Ada yang menikmati ciuman popor senjata, merasakan lembutnya lars tentara di sekujur tubuhnya, tamparan, kerja membersihkan selokan, cacian dan deraan hukuman yang membuat jatuh harga diri. Semua kegiatan, kalau tidak boleh disebut ‘hinaan’ yang diperintahkan seolah wajib kifayah bagi para pemuda malang tadi.
"Saya udah kena beberapa kali. Tamparan pernah, push up sambil diinjak pantatnya-karena nggak bisa push up yang bagus…..pernah. Mmm… suruh hitung pagar juga pernah. Selesai dikerjain tentara, ya kami ketawa-ketawa lagi. Saling mengejek penderitaan masing-masing"
Bang Muchlish dengan roman muka datar bercerita pula tentang kebiasaan orang tua di Bireuen atau daerah lain. Yaitu orang tua yang memiliki anak laki-laki. Biasanya jika sudah menginjak remaja, lebih baik segera mengirimkan anak-anaknya ke Banda Aceh, Medan, Jakarta atau kota besar lainnya. Karena jika tidak, pilihannya hanya ada dua. Jadi anggota GAM atau dikira anggota GAM. Itulah kenapa ia dulu disekolahkan orang tuanya ke IAIN Sultan Ar-Raniri di Banda Aceh.
Bang Muchlish, dari sorot matanya yang teduh dan senyumnya yang tenang, terpancar kekuatan idealisme.
Subscribe to:
Posts (Atom)